Oleh: M. Qomarul Huda

Tanpa ada kesan grogi, Rofi Yulianto maju di depan para audiens sambil menenteng kitab Fathul Qorib, kitab kuning bertuliskan huruf gundul tanpa harakat. Dia juga membawa kamus Al Munawir, kamus besar Arab-Indonesia, didampingi Ustadz Amin Fauzan, guru sekaligus pengujinya. Kamis (10/7) pagi, dia tampil di Pendapa Kabupaten Jepara dalam sosialisasi Kitab Al Ikhtisar, Rofi disaksikan para guru sekolah, pengasuh pondok pesantren, dan tokoh masyarakat. Dengan mengawali basmallah, Rofi membaca kata demi kata serta memaknai dengan bahasa Jawa , layaknya membaca kitab di pesantren. Fathul Qorib, yang dibaca Rofi, adalah kitab yang lazim diajarkan di berbagai pondok pesantren.
Tidak Mudah
Kitab itu memuat ilmu fikih dan termasuk kitab untuk santri pemula. Namun membaca kitab itu, dengan tulisan tanpa harakat sekaligus memaknainya, bukan pekerjaan mudah. Jika anak hanya berbekal dasar bahasa Arab, lazimnya butuh waktu paling tidak dua, tiga, atau empat tahun lebih untuk bisa membaca kitab itu. Dan, biasanya itu harus dilakukan dengan cara mengaji di pondok pesantren.
Kata demi kata dibaca dan dimaknai oleh Rofi, hingga ustadznya menyatakan cukup. Tak berhenti sampai disitu, Rofi pun diuji untuk mblejeti gramatika atau tata bahasa Arab dari kalimat yang baru saja dibaca. Cukup empat kata awal yang diujikan, Alhamdu, lillahi, rabbi, dan al’alamiin. Bahasa Arab berbeda misalnya dengan bahasa Indonesia atau Inggris, setidaknya lebih pelik dari turunan kata dan strukturnya.
Namun, Rofi lihai saja menjawab puluhan pertanyaan dari gurunya. Bahkan dia menjawab dengan dasar kaidah yang tertuang dalam Alfiyah Ibnu Malik, kitab ynag dalam tradisi pesantren disebut sebagai palang pintu yang mesti dikuasai jika ingin mamahami bahasa Arab. Amin Fauzan pun menawarkan kepada audiens untuk menguji dengan menuliskan kalimat Arab agar diblejeti Rofi.
“Tidak ada yang salah dalam kupasan Rofi. Semua pertanyaan dijawab dengan benar,” puji Amin Fauzan yang juga alumnus Madrasah Mathaliul Falah Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati itu. Rofi adalah santri Amin Fauzan di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Desa Kelet, Keling, Jepara. Di pesantren itulah Al Ikhtisar, sebagai metode cepat memahami bahasa Arab diajarkan dua tahun terakhir.
Metode itu kini juga diajarkan di Pondok Pesantren Jabal Nur, Rt 6 RW 2, Desa Bandengan, Jepara yang diasuh KH Nur Kholis. Amin mengungkapkan, Al Ihktisar memuat ilmu nahwu dan sharaf sebagai ilmu utama untuk menguasai bahasa Arab. Dirancang demikian rupa guna memudahkan para pembelajar pemula. Hanya ada dua jilid, masing-masing jilid 56 dan 63 halaman. Satu lagi berisi bait kaidah setebal 46 halaman. Dengan menguasai Al Ihktisar, dalam jangka 50 jam saja anak sudah bisa membaca dan memaknai kitab kuning gundul juga Al Qur’an.
Dia sudah menguji dengan banyak santri. Rofi bukan santri yang hidup di pesantren, namun tinggal di rumahnya yang dekat pesantren. Jadi di tengah belajar, dia juga sekolah dan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Beberapa tahun sebelumnya, di Jepara juga ada metode serupa, yaitu metode Amtsilati di pesantren yang diasuh KH Taufiqul Hakim Bangsri. Amtsilati terdiri atas 10 jilid.
Asisten II Setda Jepara Sutedjo S Sumarto yang memberikan respon di arena demo baca kitab kuning itu menyampaikan apresiasinya. “Paling tidak dengan metode cepat ini, bisa memberikan harapan bahwa belajar lebih efisien dan tidak membuat belajar ilmu bahasa Arab sebagai momok yang menakutkan”.
Bagaimana apabila metode Al Ihktisar juga diterapkan di Ponpes Al Asror?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar